OKI PRASETIAWAN, S.M., S.H., M.H., CLMA.: TAK PERLU MENUNGGU KAYA UNTUK MENEBAR MANFAAT BAGI SESAMA
Nilai Keagungan Jiwa Bukan Diukur dari Harta, Melainkan Ketulusan Berbuat Kebaikan
BANDUNG, 27 JULI 2026 – Pesan mendalam tentang makna kebermanfaatan dan akhlak mulia disampaikan oleh Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA. Menurutnya, seseorang tidak perlu menunggu memiliki kekayaan berlimpah untuk bisa berbuat baik dan berguna bagi orang lain. Sebab nilai luhur seseorang bukanlah terletak pada seberapa banyak harta yang dikumpulkan, melainkan pada ketulusan hati untuk senantiasa menebar kebaikan dan menjadi jalan kemudahan bagi sesama hamba Allah.
Pernyataan ini didasarkan pada ajaran luhur yang disampaikan Rasulullah SAW, sebagaimana sabda beliau: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Al-Qadla’i, dihasankan). Beliau juga menegaskan bahwa setiap kebaikan sekecil apa pun nilainya setara dengan sedekah, sebagaimana tercantum dalam riwayat HR. Bukhari dan Muslim.
Oki Prasetiawan mengajak seluruh kalangan untuk tidak ragu melaksanakan perbuatan baik sekecil apa pun yang membawa manfaat. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surat Az-Zalzalah ayat 7: “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya.” Setiap usaha tulus untuk meringankan beban dan memberi kebaikan akan dicatat dan dibalas oleh Sang Pencipta dengan pahala yang berlipat ganda.
Sebaliknya, ia juga mengingatkan agar senantiasa menjauhi hal sekecil apa pun yang berpotensi menyusahkan, merugikan, atau memberatkan sesama. Rasulullah SAW pernah berdoa dan memperingatkan: “Ya Allah, barangsiapa yang mengurusi urusan umatku lalu mempersulit mereka, maka persulitlah dia.” (HR. Muslim). Dalam riwayat lain dari HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, sabda beliau juga berbunyi: “Barangsiapa memberi mudarat kepada orang lain, maka Allah akan memberi mudarat kepadanya.”
Menutup pesannya, Oki Prasetiawan menegaskan bahwa keagungan jiwa seorang hamba tidak diukur dari tumpukan harta yang dimilikinya. Melainkan dinilai dari ketulusan niat untuk senantiasa menebar kebaikan, menjaga kerukunan, dan berusaha menjadi jalan kemudahan bagi hamba-hamba Allah lainnya. Semangat berbagi dan peduli sesama adalah kunci untuk membangun peradaban yang beradab, damai, dan penuh berkah.
Redaksi