Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA.: Makna Ilmu dan Hakikat Perjuangan Hidup Berlandaskan Petunjuk Agama
Dilengkapi Landasan Hadis Shahih dan Riwayat Ulama
BANDUNG, 2 JULI 2026 – Ilmu dan perjalanan hidup adalah dua hal yang tak terpisahkan. Demikian ditekankan oleh Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA., dalam sebuah renungan luhur yang disampaikan di Bandung, 1 Juli 2026. Ia mengajak setiap orang merenung: untuk apa ilmu dimiliki, dan bagaimana seharusnya langkah kehidupan dilalui? Semuanya berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW, dengan pesan mendalam: “Ilmu untuk manfaat, proses untuk kebaikan, hasil untuk keberkahan.
Ilmu: Titipan Ilahi untuk Kebaikan
Memiliki ilmu adalah nikmat besar yang sejatinya merupakan amanah. Oki Prasetiawan mengingatkan agar ilmu dimanfaatkan sebagai jembatan untuk menebar kebaikan, bukan merugikan sesama. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh HR. Thabrani dan Baihaqi:
“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, dan sebaik-baiknya perkataan adalah perkataan yang benar serta ilmu yang bermanfaat.”
Lebih jauh, ilmu adalah amanah dari Allah. Ilmu yang disebarkan untuk kebaikan akan terus tumbuh dan diterangi oleh banyak jiwa. Sebagaimana pesan ulama:
“Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka kelak di hari kiamat ia akan dibelenggu dengan belenggu dari api neraka.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Keberhasilan Lahir dari Proses
Pencapaian sejati lahir dari kesungguhan, ketekunan, kesabaran, dan penghargaan terhadap setiap langkah yang dilalui. Islam pun mengajarkan konsistensi, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam HR. Bukhari dan Muslim:
“Ketahuilah, sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun amalan itu kecil.”
Selain itu, keberhasilan sejati juga tak lepas dari ketentuan Tuhan. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA:
“Janganlah engkau berharap buah sebelum musimnya tiba, ketahuilah bahwa segala sesuatu memiliki ukuran, waktu, dan ketetapan yang telah ditentukan oleh Allah.”
Dalam proses itulah kesabaran ditempa, keikhlasan dibangun, dan kebijaksanaan dipahami. Maka, menghargai setiap tahapan berarti merawat hasil yang kelak akan kokoh, berkah, dan abadi.
Menyatukan Ilmu dan Langkah: Cita Hidup yang Sempurna
Puncak dari pemahaman ini adalah menyatukan ilmu dan perbuatan. Ilmu hendaknya dijadikan ladang pahala dan kebaikan bagi sesama, sementara kehidupan sehari-hari dijadikan sekolah untuk menyempurnakan akhlak. Kebijaksanaan pun seharusnya digunakan bukan untuk meninggikan derajat diri semata, melainkan mengangkat derajat orang lain dan berbuat sebaik mungkin, karena hidup adalah ujian keteguhan hati dan tekad yang kokoh.
Sebagai penutup renungan ini, ditegaskan sebuah kebenaran mendasar:
“Nilai tinggi kehidupan bukan diukur dari harta atau jabatan, tetapi dari seberapa luas manfaat yang disebarkan dan seberapa mulia jiwa yang terbentuk dari setiap ujian dalam perjalanan hidup.”(red)
Laporan: Redaksi Jurnalistik & Nilai Kehidupan
Sumber: Pemikiran dan Renungan Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA.