Oki Prasetiawan Soroti Keselarasan Syariat dan Tasawuf dalam Perjalanan Spiritual
JAKARTA — Perjalanan spiritual dalam Islam tidak hanya berbicara mengenai kedalaman batin, tetapi juga menuntut kepatuhan terhadap aturan lahiriah yang menjadi fondasi kehidupan seorang muslim.
Di tengah kehidupan modern yang sarat dengan kesibukan dan tekanan duniawi, upaya mencari ketenangan melalui dimensi spiritual atau tasawuf semakin mendapat perhatian. Namun, pemahaman terhadap kehidupan batin dinilai perlu ditempatkan secara proporsional agar tidak terlepas dari landasan syariat.
Pengamat sosial-keagamaan Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA., CLA., menyampaikan pandangan edukatif mengenai keterkaitan Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Makrifat sebagai bagian dari perjalanan spiritual Islam.
Menurut Oki, keempat konsep tersebut tidak seharusnya dipertentangkan antara satu dengan lainnya. Syariat menjadi landasan lahiriah, sementara tarekat, hakikat, dan makrifat menggambarkan dimensi perjalanan batin yang membutuhkan kedisiplinan dan penghayatan.
“Dalam timbangan logika aturan, kita tidak akan pernah bisa menegakkan keadilan substantif jika hukum formal atau prosedur awalnya kita tabrak. Di dalam syariat agama pun demikian—keluhuran batin tidak akan tercapai tanpa ketundukan lahir,” ujar Oki.
Ia menjelaskan bahwa pembahasan mengenai tingkatan spiritualitas Islam dapat dikaitkan dengan Hadis Jibril, yang menjelaskan tiga dimensi agama, yakni Islam, Iman, dan Ihsan. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim tersebut, Rasulullah SAW menjelaskan makna ihsan sebagai beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, dan apabila tidak melihat-Nya, maka meyakini bahwa Allah senantiasa melihat hamba-Nya.
Syariat sebagai Fondasi Utama
Oki menempatkan syariat sebagai fondasi awal dalam perjalanan seorang muslim. Syariat mencakup ketentuan lahiriah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, mulai dari kewajiban salat, puasa, zakat hingga ketentuan muamalah dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, pencapaian spiritual tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan kewajiban agama.
“Syariat adalah pagar pengaman bagi seorang hamba Allah. Sungguh keliru jika ada yang mengira setelah mencapai maqam spiritual, ia bebas meninggalkan ibadah wajib seperti salat lima waktu. Pemahaman demikian justru menggugurkan hakikat beragama,” tegasnya.
Tarekat sebagai Jalan Pembinaan Jiwa
Tahapan berikutnya adalah tarekat, yang secara umum dipahami sebagai jalan atau metode dalam menempuh pembinaan spiritual.
Dalam konteks tersebut, tarekat berkaitan dengan proses tazkiyatun nafs, yakni upaya membersihkan dan mendisiplinkan jiwa secara berkelanjutan.
Melalui zikir, tafakur, pembinaan akhlak, serta bimbingan spiritual, pelaksanaan syariat diharapkan tidak berhenti pada aktivitas lahiriah, tetapi juga memberikan pengaruh terhadap kondisi batin seseorang.
Hakikat Menggali Esensi Ibadah
Hakikat, lanjut Oki, berkaitan dengan pemahaman terhadap esensi dan nilai substantif dari ibadah yang dilakukan.
Pada tahap ini, ibadah tidak semata-mata dipandang sebagai kewajiban formal, tetapi mulai dihayati sebagai kebutuhan spiritual seorang hamba kepada Tuhannya.
“Jika syariat adalah kepatuhan mutlak pada bunyi aturan tertulis, maka hakikat adalah nilai keadilan luhur yang terkandung di dalamnya. Di sinilah indahnya Islam—setiap syariat selalu menyimpan hakikat yang menenteramkan,” jelasnya.
Makrifat sebagai Puncak Pengenalan kepada Allah
Sementara itu, makrifat dipahami sebagai pengenalan yang mendalam kepada Allah SWT melalui kesadaran spiritual.
Oki menyebut bahwa dalam pemahaman tasawuf, makrifat berkaitan dengan kedalaman kesadaran batin mengenai keagungan, keesaan, dan kebesaran Allah SWT.
“Pada titik mulia ini, berbuat kebajikan dan menjauhi maksiat bukan lagi karena takut neraka atau memburu pahala surga. Segalanya murni didasari rasa cinta tulus atau mahabbah dan pengenalan mendalam kepada Sang Khaliq,” tuturnya.
Ia juga mengaitkan hal tersebut dengan Hadis Qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhari, yang menjelaskan bahwa amalan wajib merupakan bentuk pendekatan diri yang paling dicintai Allah, kemudian dilanjutkan dengan amalan-amalan sunnah hingga seorang hamba mendapatkan kecintaan-Nya.
Lahir dan Batin Harus Berjalan Seimbang
Oki menegaskan bahwa pembahasan mengenai syariat dan dimensi spiritual seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan.
Secara sederhana, struktur perjalanan tersebut dapat dipahami sebagai:
Syariat → fondasi hukum dan ibadah lahiriah
Tarekat → jalan pembinaan serta pembersihan jiwa
Hakikat → pemahaman terhadap esensi dan nilai ibadah
Makrifat → pengenalan spiritual yang mendalam kepada Allah SWT
Menurut Oki, keseimbangan antara aspek lahiriah dan batiniah menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan keberagamaan yang utuh.
“Syariat tanpa hakikat adalah hampa. Hakikat tanpa syariat adalah batal. Keduanya berjalan beriringan. Integrasi inilah yang membentuk pribadi muslim yang taat secara lahir, sekaligus bersih dan bening secara batin,” pungkas Oki.
(Red)