Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
OkiNews OkiNews OkiNews
OkiNews OkiNews OkiNews
  • Breaking News
  • Hukum
  • Militer
  • Nasional
  • Opini
  • Polri
  • Sosial
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Breaking News
  • Hukum
  • Militer
  • Nasional
  • Opini
  • Polri
  • Sosial
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
OkiNews OkiNews OkiNews
OkiNews OkiNews OkiNews
  • Breaking News
  • Hukum
  • Militer
  • Nasional
  • Opini
  • Polri
  • Sosial
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Breaking News
  • Hukum
  • Militer
  • Nasional
  • Opini
  • Polri
  • Sosial
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Home/Nasional/Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA., CLA.: 1 Muharam, Momentum Pembaruan Diri & Kesesuaian dengan Hukum Alam Semesta
Nasional

Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA., CLA.: 1 Muharam, Momentum Pembaruan Diri & Kesesuaian dengan Hukum Alam Semesta

By admin
Juni 16, 2026 3 Min Read
0

OKINEWS JAKARTA – Tanggal 1 Muharam atau yang dikenal masyarakat Jawa sebagai 1 Suro, bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Hijriah. Lebih dari itu, momen ini menjadi titik balik spiritual yang sarat makna filosofis, yuridis, dan kemanusiaan. Menurut pengamat hukum dan filsafat, Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA., CLA., peringatan ini sangat erat kaitannya dengan prinsip universal bahwa segala sesuatu akan kembali dan menyatu dengan asal‑usulnya.

 

“1 Muharam adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali hukum alam yang berlaku mutlak: segala ciptaan cenderung bergerak, mendekat, dan menyatu dengan apa yang sejenis, serasi, dan sepadan dengannya. Seperti air kembali ke air, minyak menyatu dengan minyak, demikian pula manusia—pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta,” ungkap Oki Prasetiawan saat diwawancarai.

 

Makna Perjalanan dan Pemurnian

 

Secara historis, 1 Muharam menandai perjalanan agung Nabi Muhammad dan para sahabat berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Bagi Oki, peristiwa ini bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan simbol perpindahan menuju kesempurnaan dan kesesuaian.

 

“Hijrah adalah bergerak dari yang tidak selaras menuju yang selaras, dari ketidakteraturan menuju tatanan yang benar. Ini selaras dengan prinsip kosmologis: segala sesuatu bergerak menuju keseimbangan dan hukum yang menciptakannya. Manusia berhijrah memperbaiki diri agar kembali sejalan dengan fitrah dan kehendak Tuhan,” jelasnya.

 

Dalam tradisi keislaman, makna ini dipertegas sabda Rasulullah ﷺ: “Jiwa‑jiwa itu seperti pasukan yang dikerahkan; siapa yang saling mengenal akan bersatu, dan yang saling asing akan berpisah” (HR. Bukhari & Muslim). Oki menegaskan, di awal tahun baru ini, manusia diingatkan untuk memastikan: “Kepada sifat apa kita menyatu? Apakah pada kebaikan, kebenaran, dan ketakwaan, atau justru sebaliknya?”

 

Tinjauan Filsafat: Kembali ke Asal

 

Ditinjau dari sudut pandang filsafat hikmah, Oki mengaitkan momen 1 Muharam dengan kaidah masyhur “Asy‑Sya’u yanjibu mitslahahu” – segala sesuatu hanya menarik dan bersatu dengan yang serupa dengannya.

 

“Tahun baru adalah simbol siklus kehidupan. Alam semesta berputar, musim berganti, semuanya kembali ke titik awal untuk memulai babak baru. Bagi manusia, ini panggilan hakiki: hati yang diciptakan oleh Tuhan hanya akan tenang dan damai jika ia kembali, menyatu, dan selaras dengan Penciptanya. Sebab, makhluk tidak akan pernah utuh kecuali bersatu kembali dengan asal‑usulnya,” urainya.

 

Filosof Jalaluddin Rumi pernah berkata, “Kita berasal dari bintang, maka kita rindu kembali ke langit.” Menurut Oki, ungkapan ini sangat relevan dengan semangat 1 Suro: kerinduan untuk kembali ke asal, memurnikan niat, dan menyelaraskan kembali langkah hidup dengan nilai‑nilai kebenaran.

 

Perspektif Hukum: Kesesuaian Norma dan Keadilan

 

Sebagai praktisi hukum, Oki juga melihat makna mendalam 1 Muharam dalam kacamata ketatanegaraan dan aturan hidup. “Dalam ilmu hukum, kita mengenal asas kesesuaian norma dan hierarki aturan. Sebuah peraturan dikatakan sah dan berlaku jika selaras, tidak bertentangan, dan bersumber dari aturan yang lebih tinggi. Jika tidak sesuai, maka batal demi hukum,” paparnya.

 

Ia mengibaratkan kehidupan manusia layaknya sebuah sistem aturan. “Tuhan adalah Hukum Tertinggi dan Mutlak. Kehidupan kita sah, bermakna, dan membawa kedamaian hanya jika perilaku, norma, dan nilai yang kita jalankan selaras dengan hukum ilahi. 1 Muharam adalah momen mengevaluasi: apakah hidup kita sudah sesuai dengan ‘Hukum Induk’ yang menciptakan kita? Jika ada pertentangan, maka saatnya diperbaiki agar kembali sejalan,” tegasnya.

 

1 Suro: Tradisi Lokal yang Bernilai Universal

 

Oki juga menyoroti bagaimana masyarakat Jawa merayakan 1 Suro dengan tradisi tirakat, bersih diri, dan merenung. Baginya, tradisi ini adalah bukti kearifan lokal yang sejalan dengan ajaran agama dan hukum alam.

 

“Tradisi ini mengajarkan pembersihan diri. Menghapus sifat buruk, memperbaiki hubungan, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Intinya satu: menyelaraskan kembali diri dengan hakikat keberadaan. Karena pada akhirnya, seperti hukum alam yang tak terbantahkan, kita akan menyatu dengan apa yang kita tanam dan apa yang kita cintai,” ujarnya.

 

Di akhir pernyataannya, Oki Prasetiawan mengajak seluruh masyarakat menjadikan 1 Muharam bukan sekadar tanggal merah, tetapi momentum perubahan besar.

 

“Mari kita pastikan di tahun baru ini, kita bergerak dan menyatu dengan kebaikan, kebenaran, dan Sang Pencipta. Karena hanya dengan kesesuaian itulah kedamaian sejati akan kita temukan,” tutupnya.

 

(Tim Redaksi)

Author

admin

Follow Me
Other Articles
Previous

Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA., CLA.: Analisis Akademis Prinsip Kesesuaian dalam Perspektif Hukum, Filsafat, dan Teologi

Next

BGN Ubah Skema Insentif Dapur SPPG: Tak Lagi Flat Rp6 Juta Per Hari

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2026 — OkiNews. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme