Suara dari Bawah: Adv. Oki Prasetiawan Menggugat Amnesia Kekuasaan
JAKARTA — Advokat Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA., menyampaikan kritik terhadap pola kekuasaan yang dinilai kerap melupakan suara dan kepentingan masyarakat setelah memperoleh kepercayaan dari rakyat.
Melalui pesan bertajuk “Suara dari Bawah: Menggugat Amnesia Kekuasaan”, Oki mengingatkan bahwa pemegang kekuasaan pada dasarnya merupakan pelayan masyarakat, bukan penguasa yang bebas menentukan segala sesuatu tanpa mempertimbangkan suara rakyat.
Menurutnya, jabatan dan kekuasaan merupakan amanah yang sewaktu-waktu dapat berakhir. Karena itu, pemimpin dituntut untuk tetap rendah hati, mendengar aspirasi masyarakat, serta tidak melupakan pihak-pihak yang telah memberikan dukungan.
Dalam pesannya, terdapat sejumlah poin penting yang menjadi sorotan.
Pertama, rakyat adalah pemberi mandat. Oki menegaskan bahwa mereka yang duduk di kursi kekuasaan memperoleh kepercayaan melalui mandat masyarakat. Karena itu, kekuasaan seharusnya digunakan untuk melayani kepentingan publik, bukan sekadar mempertahankan kedudukan.
Kedua, jangan melupakan keringat yang menghidupi kekuasaan. Menurut Oki, perjalanan menuju sebuah jabatan tidak terlepas dari dukungan banyak pihak. Mereka yang pernah membantu, bekerja keras dan memberikan kepercayaan tidak seharusnya dilupakan setelah kekuasaan berada di tangan.
Ketiga, jika terlalu kaku untuk membungkuk, silakan angkat kaki. Pesan tersebut menjadi kritik terhadap pemimpin yang dinilai kehilangan kepekaan terhadap masyarakat. Kerendahan hati dan kemampuan mendengarkan suara rakyat dinilai sebagai bagian penting dari kepemimpinan.
Keempat, rakyat memegang kendali, sementara rakyatlah yang memiliki kendaraan politik. Oki mengingatkan bahwa kebijakan dan keputusan pemerintah harus tetap berpijak pada kepentingan masyarakat. Kritik terhadap pemerintah tidak semestinya dianggap sebagai ancaman, melainkan bagian dari mekanisme demokrasi.
Ia juga mengingatkan bahwa kekuasaan memiliki batas waktu. Seorang pemimpin pada akhirnya akan kembali menjadi bagian dari masyarakat. Karena itu, selama memperoleh amanah, kekuasaan seharusnya digunakan untuk memberikan manfaat dan meninggalkan rekam jejak yang baik.
“Pemimpin yang kehilangan kerendahan hati adalah seburuk-buruknya pelayan. Karena esensi memimpin bukanlah tentang seberapa banyak orang yang tunduk di bawah perintahmu, melainkan seberapa banyak rakyat yang mampu kamu ringankan di atas pundakmu.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa jabatan bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan tanggung jawab besar kepada masyarakat. Pemimpin yang mampu menjaga komunikasi dengan rakyat, menerima kritik dan tetap rendah hati dinilai akan lebih mampu menjaga kepercayaan publik.
Melalui pernyataan itu, Adv. Oki Prasetiawan mengajak seluruh pemegang amanah kekuasaan untuk tidak mengalami “amnesia kekuasaan” serta senantiasa mengingat bahwa setiap jabatan pada akhirnya merupakan titipan dan tanggung jawab kepada rakyat.
Redaksi