PLN Dorong Pembenahan Tata Niaga Telur, SPPG Dinilai Jadi Kunci Serapan Peternak
JAKARTA — Presiden Peternak Layer Nasional (PLN) Ki Musbar Mesdi menilai kebijakan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman dalam memperkuat penyerapan telur melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) merupakan langkah yang tepat. Kebijakan tersebut dinilai perlu diikuti dengan pemetaan kebutuhan dan produksi agar penyerapan telur dari peternak berjalan lebih efektif.
Ki Musbar mengatakan SPPG memiliki posisi strategis sebagai bagian dari pemerintah yang berperan langsung dalam menyerap telur untuk memenuhi kebutuhan program gizi masyarakat. Karena itu, kondisi dan sebaran SPPG di berbagai daerah perlu dipetakan secara menyeluruh.
“Yang dibilang Pak Amran itu sudah jelas. Basic-nya adalah SPPG sebagai badan terdepan dari pemerintah dalam penyerapan telur. Artinya kita kembali lagi kepada SPPG sebagai lembaga pemerintah yang terdepan dalam penyerapan,” kata Ki Musbar saat dihubungi secara online, Sabtu (22/8/2026).
Menurutnya, inventarisasi perlu mencakup jumlah SPPG yang masih aktif, lokasi, kapasitas pelayanan, hingga kebutuhan telur di setiap wilayah. Data tersebut kemudian dapat dipertemukan dengan sentra produksi sehingga rantai pasok dari peternak menuju SPPG menjadi lebih efisien.
“Klasifikasinya harus tahu, diinventarisasi SPPG yang masih aktif berapa, ada di Jawa Timur berapa. Kita mesti tahu kondisi lapangan, kita harus bisa mempertemukan ini bagaimana,” ujarnya.
Selain memperkuat penyerapan, PLN juga mendorong pembenahan tata niaga telur agar distribusi berjalan secara sehat dan efisien. Menurut Ki Musbar, setiap pelaku usaha tetap memiliki peran dalam rantai perdagangan, namun diperlukan pengawasan serta pembinaan untuk mencegah terjadinya praktik yang merugikan peternak.
“Artinya beginilah, kita penertiban, penertiban dan pembinaan,” kata Ki Musbar.
Langkah tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang berupaya memberikan perlindungan kepada peternak dari sisi produksi maupun pemasaran. Melalui kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN), penyerapan telur oleh SPPG diarahkan sesuai petunjuk teknis dengan harga Rp26.500 per kilogram, sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen.
Dari sisi produksi, pemerintah juga melanjutkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung melalui Perum Bulog hingga akhir 2026. Program tersebut diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan bahan baku pakan sekaligus menekan beban biaya produksi peternak.
Mentan Amran sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah harus mengambil posisi di tengah dengan memberikan perlindungan kepada peternak rakyat tanpa menghambat pertumbuhan dunia usaha.
“Kami sayang pengusaha, kami sayang peternak kecil. Kami di tengah, bagaimana tumbuh bersama,” ujar Amran dalam Rapat Koordinasi Perunggasan di Surabaya, Jawa Timur, 11 Agustus 2026.
Pengawasan terhadap tata niaga juga terus dilakukan pemerintah melalui Satgas Pangan. Pengawasan tersebut diarahkan untuk memastikan perdagangan berjalan sesuai ketentuan sekaligus menjaga kepentingan peternak.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda mengatakan seluruh kebijakan pemerintah pada akhirnya harus memberikan manfaat dan perlindungan bagi peternak rakyat.
“Arahan Bapak Menteri Pertanian sangat jelas: peternak rakyat harus dilindungi. Karena itu, kami bekerja dari dua sisi. Beban produksinya kita tekan melalui pakan dan jagung, sementara dari sisi hilir kita perkuat penyerapan telurnya. Keduanya harus berjalan bersamaan,” kata Agung.
Agung menambahkan, Kementan terus melakukan pengawalan terhadap pelaksanaan kebijakan di lapangan sekaligus membuka ruang masukan dari peternak maupun pelaku usaha. Hal itu penting agar kebijakan yang diterapkan tetap sesuai dengan dinamika produksi dan kebutuhan di masing-masing daerah.
Penguatan ekosistem perunggasan diharapkan tidak hanya memberikan kepastian usaha bagi peternak, tetapi juga menjaga keberlanjutan produksi telur nasional. Pada saat yang sama, ketersediaan protein hewani bagi masyarakat dapat tetap terjaga dengan harga yang terjangkau.
Red