Menu MBG Perlu Disesuaikan Usia, Camat Bantargadung Dorong Evaluasi untuk Percepat Penurunan Stunting
BANTARGADUNG – Camat Bantargadung, Syarifuddin Rahmat, meminta pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayahnya segera dievaluasi setelah ditemukan menu makanan yang diberikan kepada balita masih disamakan dengan menu bagi siswa Sekolah Dasar (SD). Menurutnya, penyesuaian menu berdasarkan kelompok usia menjadi langkah penting agar program benar-benar efektif dalam menekan angka stunting.
Syarifuddin menjelaskan, Program MBG merupakan salah satu program strategis nasional Presiden yang memiliki tiga sasaran utama, yakni meningkatkan pemenuhan gizi anak, mempercepat penurunan stunting, serta mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat. Di tingkat kecamatan, fokus utama diarahkan pada percepatan penanganan stunting melalui sinergi berbagai pihak.
Meski berbagai intervensi telah dilakukan, seperti Program MBG, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dari pemerintah desa, serta pendampingan dari Puskesmas, angka stunting di Kecamatan Bantargadung dinilai belum mengalami penurunan yang signifikan.
Salah satu hasil evaluasi di lapangan menunjukkan bahwa menu MBG untuk baduta usia 6–24 bulan masih disamakan dengan menu balita usia 25–60 bulan maupun siswa SD. Padahal, kebutuhan nutrisi setiap kelompok usia memiliki karakteristik yang berbeda.
“Karena itu kami menggelar rapat koordinasi bersama SPPG agar menu makanan dapat dibedakan sesuai kelompok usia. Ini menjadi salah satu hal yang harus segera diperbaiki agar manfaat program lebih optimal,” ujar Syarifuddin.
Ia mengungkapkan, sebelumnya pihak kecamatan juga pernah mengusulkan pemberian susu formula atau susu UHT tertentu sebagai bagian dari intervensi penanganan stunting. Namun, pelaksanaannya kemudian disesuaikan dengan kebijakan pemerintah pusat.
Meski demikian, Syarifuddin berharap pengelola SPPG diberikan ruang untuk melakukan penyesuaian teknis sesuai kebutuhan di lapangan tanpa bertentangan dengan regulasi yang berlaku, sehingga sasaran program memperoleh asupan gizi yang benar-benar sesuai.
Hasil evaluasi tersebut bahkan berencana disampaikan kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), bahkan bila diperlukan hingga kepada Presiden. Ia berharap Bantargadung dapat dijadikan daerah percontohan (pilot project) dalam upaya percepatan penanganan stunting berbasis evaluasi program.
Menurutnya, pelaksanaan MBG sejauh ini telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan berat badan anak. Namun, peningkatan tinggi badan masih memerlukan perhatian melalui intervensi gizi yang lebih tepat sasaran.
“Berat badan anak memang meningkat setiap bulan berdasarkan data Posyandu. Namun untuk pertumbuhan tinggi badan masih menjadi tantangan, sehingga perlu penyempurnaan menu MBG dan pendampingan yang lebih intensif dari Puskesmas,” jelasnya.
Selain menyasar balita, perhatian juga diberikan kepada ibu hamil dan ibu menyusui, khususnya yang mengalami gangguan asupan gizi, melalui pemberian vitamin serta tablet tambah darah sebagai langkah pencegahan munculnya kasus stunting baru.
Ke depan, Pemerintah Kecamatan Bantargadung akan memperkuat koordinasi bersama Puskesmas, pemerintah desa, kader Posyandu, Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), Tim Pendamping Keluarga (TPK), hingga Linmas untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu dan memastikan seluruh intervensi gizi berjalan maksimal.
Syarifuddin optimistis, melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, target penurunan angka stunting sebesar 5 persen pada tahun ini tidak hanya dapat tercapai, tetapi juga berpeluang dilampaui.
Redaktur : Asep Lodaya