Kesepakatan Damai AS‑Iran Dikritik: Trump 'Menyerah', AS Tak Dapat Apa‑apa?

OKINEWS JAKARTA – Kesepakatan damai yang digembar‑gemborkan Presiden AS Donald Trump dengan Iran justru menuai kritik pedas dari sesama politisi di negaranya. Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Seth Moulton, menilai dokumen yang disusun Trump itu sama sekali bukan kemenangan, melainkan tanda penyerahan diri Amerika Serikat.   Dalam wawancara di MS Now, Sabtu (13/6/2026), Moulton menyoroti mahalnya harga yang sudah dibayar AS selama konflik berlangsung. Ia menyebut negara itu telah menghabiskan uang rakyat senilai 100 miliar dolar AS, serta kehilangan 14 nyawa prajuritnya, namun hasil yang didapat dianggapnya nol besar.   Poin yang paling membuat Moulton tak habis pikir adalah klaim Trump bahwa kesepakatan ini sukses karena berhasil membuka kembali akses Selat Hormuz. Padahal menurut pengamatannya, perairan strategis itu sebenarnya sudah terbuka dan berjalan normal jauh sebelum perang dimulai.   "Kita dapat kesepakatan yang isinya membuka kembali selat yang memang sudah terbuka sebelum dia memulai perang? Bagaimana mungkin hal itu disebut kemenangan? Ini murni kekalahan, satu demi satu, bagi Trump dan Amerika Serikat," tegas Moulton, dikutip dari RT pada Senin (15/6/2026).   Sebelumnya, Trump memang mengumumkan tercapainya kesepakatan damai tersebut, namun belum merinci seluruh isinya secara lengkap. Ia hanya menyoroti beberapa poin utama: Selat Hormuz akan dibuka sepenuhnya dan bebas biaya bagi seluruh kapal, serta AS akan mencabut blokade angkatan laut yang menutup akses pelabuhan Iran. Langkah ini diharapkan mengembalikan normalitas perdagangan minyak dunia.   Rencananya, perwakilan kedua negara akan bertemu di Swiss pada Jumat (19/6/2026) untuk menandatangani naskah kesepakatan damai tersebut secara resmi. Meski disepakati kedua belah pihak, di dalam negeri AS sendiri kesepakatan ini ternyata masih menuai kontroversi tajam. (Tim Redaksi)