Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
OkiNews OkiNews OkiNews
OkiNews OkiNews OkiNews
  • Breaking News
  • Hukum
  • Militer
  • Nasional
  • Opini
  • Polri
  • Sosial
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Breaking News
  • Hukum
  • Militer
  • Nasional
  • Opini
  • Polri
  • Sosial
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
OkiNews OkiNews OkiNews
OkiNews OkiNews OkiNews
  • Breaking News
  • Hukum
  • Militer
  • Nasional
  • Opini
  • Polri
  • Sosial
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Breaking News
  • Hukum
  • Militer
  • Nasional
  • Opini
  • Polri
  • Sosial
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Home/Breaking News/EdShareOn: Eddy Wijaya & Prof. Dwikorita Karnawati – El Nino Godzilla dan Ancaman Aktifnya Sesar Palu‑Koro
Breaking News

EdShareOn: Eddy Wijaya & Prof. Dwikorita Karnawati – El Nino Godzilla dan Ancaman Aktifnya Sesar Palu‑Koro

By admin
Juni 17, 2026 5 Min Read
0

 

Wawasan Penting Menghadapi Risiko Alam di Tengah Geopolitik Dunia yang Belum Pasti

JAKARTA, 17 Juni 2026 – Kanal diskusi inspiratif EdShareOn kembali menyajikan pembahasan yang sangat krusial bagi seluruh elemen bangsa Indonesia. Dalam sesi wawancara eksklusif yang dipandu langsung oleh Eddy Wijaya, narasumber utama Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D.—mantan Kepala BMKG periode 2017–2025 sekaligus Guru Besar Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada—membuka wawasan mendalam mengenai dua ancaman besar yang kini membayangi negeri ini. Topik sentral yang diulas adalah fenomena alam ekstrem bernama El Nino Godzilla serta potensi bahaya gempa dan tsunami yang mengintai dari keaktifan kembali Sesar Palu‑Koro.

 

Percakapan ini tidak hanya membedah definisi ilmiah dan data teknis, tetapi juga menguraikan dampak nyata yang akan dirasakan masyarakat, kaitannya erat dengan dinamika politik ekonomi dunia, hingga langkah‑langkah strategis yang wajib disiapkan pemerintah maupun warga negara. Berikut adalah rangkuman lengkap dan rinci dari isi pembahasan penting tersebut.

 

Apa Sebenarnya El Nino Godzilla? Lebih Kuat, Lebih Panjang, Lebih Merusak

 

Eddy Wijaya membuka sesi dengan pertanyaan mendasar mengenai asal‑usul dan makna di balik julukan yang terdengar mengerikan tersebut. Menurut penjelasan Prof. Dwikorita, istilah El Nino Godzilla atau kerap disebut juga Super El Nino dipakai oleh para ahli untuk menggambarkan skala pemanasan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang terjadi jauh melampaui batas rata‑rata siklus biasa.

 

“Jika dampak El Nino biasa saja kita sudah rasakan begitu berat dan menyulitkan, kali ini skalanya jauh lebih besar. Jangkauan wilayah yang terdampak lebih luas, durasinya lebih panjang, dan berpotensi bertahan hingga awal tahun depan. Hal yang membuat kondisi ini semakin pelik adalah fenomena ini datang berbarengan dengan indeks Samudra Hindia positif. Gabungan kedua kekuatan alam ini menciptakan situasi ibarat badai sempurna, di mana kemarau di Indonesia akan terasa jauh lebih panjang, lebih kering, dan lebih panas dari apa yang pernah kita alami,” papar Dwikorita dengan serius.

 

Wilayah yang diprediksi akan mengalami dampak paling parah meliputi seluruh wilayah Indonesia bagian selatan dan barat: mulai dari Sumatera, Jawa, sebagian wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Timur, hingga Bali. Sementara itu, dampak di wilayah tengah dan timur bersifat tidak merata namun tetap berpotensi menimbulkan masalah jika tidak diantisipasi.

 

Eddy Wijaya kemudian menyoroti kaitan erat fenomena alam ini dengan konteks situasi global saat ini. “Kondisi alam yang sulit ini terjadi tepat di saat situasi politik dan ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih dari ketegangan konflik internasional. Meski ketegangan perang mulai mereda, dampak terhadap rantai pasok dan harga komoditas masih sangat tidak stabil. Apakah ini menjadikan beban kita semakin berat, semacam tantangan ganda?”

 

“Tepat sekali gambaran tersebut,” jawab Dwikorita tegas. “Kekeringan panjang dan ekstrem berisiko memicu kegagalan panen massal, krisis ketersediaan air bersih, meluasnya kebakaran hutan dan lahan, hingga lonjakan tajam harga bahan pangan pokok. Jika tekanan alam ini bertemu dengan guncangan ekonomi luar, maka beban yang ditanggung masyarakat akan sangat berat dan berpotensi mengganggu stabilitas nasional.”

 

Strategi Menghadapi Dampak: Dari Lahan Pertanian, Sumber Air, Hingga Kesehatan

 

Menjawab pertanyaan Eddy Wijaya mengenai solusi dan persiapan konkret apa yang harus dilakukan, Dwikorita merinci sejumlah rencana mitigasi terperinci yang harus segera dijalankan.

 

Poin utama pertama adalah penyesuaian besar di sektor pertanian. Para petani dan dinas terkait diminta segera mengubah pola tanam secara menyeluruh. Solusi paling mendesak adalah beralih ke varietas tanaman yang memiliki umur tumbuh pendek serta tahan banting terhadap kondisi minim air dan suhu panas tinggi. Pemerintah wajib mendukung penuh penyebaran bibit unggul ini serta memperluas penggunaan teknologi irigasi hemat air agar produksi pangan nasional tetap terjaga aman.

 

Kedua adalah pengelolaan air dan pemanfaatan teknologi rekayasa cuaca. Sebelum musim kemarau mencapai puncak terparahnya, BMKG bersama kementerian terkait akan memaksimalkan pelaksanaan teknologi hujan buatan. Tujuannya jelas: mengisi kembali waduk dan cadangan air tanah, khususnya di wilayah yang paling kering seperti Nusa Tenggara. Distribusi bantuan pompa air ke lahan‑lahan pertanian terpencil juga menjadi prioritas utama agar irigasi tidak mati.

 

Ketiga adalah kewaspadaan ketat terhadap ketersediaan pangan, gizi, dan kesehatan masyarakat. Risiko terbesar yang mengintai adalah gangguan berat pada rantai pasok makanan. Hal ini dikhawatirkan akan berdampak langsung dan mengganggu keberhasilan pelaksanaan program strategis negara seperti Makan Bergizi Gratis.

 

“Anak‑anak dan lansia adalah dua kelompok yang paling rentan terkena dampak buruk ini. Jika harga pangan naik drastis atau pasokan berkurang, maka asupan gizi mereka terancam buruk. Kita harus memastikan cadangan pangan negara aman dan harganya tetap terjangkau rakyat,” tegas Dwikorita.

 

Selain itu, daerah‑daerah yang baru saja pulih dari bencana alam besar seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh harus mendapatkan perhatian khusus. Bertahan hidup di tengah kemarau panjang saat sedang dalam tahap pemulihan pasca‑bencana membutuhkan persiapan ekstra di bidang sanitasi dan ketersediaan air bersih.

 

Secara medis, enam bulan ke depan diprediksi akan terjadi lonjakan kasus penyakit yang berhubungan langsung dengan cuaca kering, mulai dari diare, infeksi saluran pernapasan akibat debu dan polusi, hingga kasus gizi buruk pada balita. Kesiapan fasilitas kesehatan dan obat‑obatan menjadi hal mutlak yang tak boleh dikesampingkan.

 

Ancaman Tersembunyi: Sesar Palu‑Koro dan Bahaya Tsunami Laut Dalam

 

Di sesi kedua yang tak kalah penting, pembahasan beralih ke potensi bencana geologis. Eddy Wijaya menyinggung peristiwa gempa berkekuatan 7,7 Skala Richter yang mengguncang perairan selatan Mindanao, Filipina, pada 8 Juni 2026 lalu. Guncangan tersebut sempat merusak bangunan dan fasilitas umum di wilayah perbatasan Indonesia seperti Kepulauan Sangihe dan Talaud.

 

“Apakah gempa besar di Filipina ini ada hubungan teknis dengan kondisi Sesar Palu‑Koro? Apakah kejadian ini menjadi tanda awal bahwa patahan besar itu mulai bergerak kembali secara aktif?” tanya Eddy Wijaya meminta kejelasan.

 

Dwikorita menjelaskan bahwa meski jarak pusat gempa cukup jauh dan pengaruh langsungnya dianggap kecil, sistem pemantauan tetap dikerahkan secara ketat tanpa henti. Beliau kemudian membeberkan fakta baru yang mengejutkan dari hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh peneliti Yang Ting Wei dari Lembaga Geologi dan Geofisika Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok.

 

“Kita baru saja benar‑benar paham struktur aslinya berkat teknologi mutakhir. Ternyata, Sesar Palu‑Koro itu tidak berhenti atau putus di daratan Sulawesi saja. Garis patahan ini utuh, lurus, dan memanjang terus masuk hingga jauh ke dasar Laut Sulawesi. Inilah fakta ilmiah yang menjelaskan alasan mengapa gempa Palu tahun 2018 lalu bisa memicu tsunami yang begitu dahsyat dan mematikan dalam waktu sangat singkat,” ungkap Dwikorita.

 

Karena patahannya membelah dasar laut secara lurus dan panjang, pergerakan sedikit saja berpotensi menggeser massa air dalam jumlah sangat besar dan memicu gelombang raksasa. Risiko bahayanya dinilai jauh lebih besar dibandingkan sesar darat biasa karena tidak ada penghalang alami. Dwikorita mengingatkan masyarakat yang tinggal di sekitar Teluk Palu dan seluruh pesisir Sulawesi untuk selalu waspada, paham jalur evakuasi, dan tidak lengah.

 

Penutup: Kesiapan Adalah Kekuatan Utama Menghadapi Segala Kemungkinan

 

Di akhir diskusi panjang dan mendalam ini, Eddy Wijaya menutup dengan pertanyaan mendasar mengenai kesiapan bangsa secara keseluruhan. “Di tengah dua ancaman besar ini yang datang hampir bersamaan, apakah Indonesia sudah siap?”

 

Prof. Dwikorita menegaskan bahwa menghadapi situasi berat ini memerlukan kerja sama dan kepedulian dari seluruh elemen bangsa tanpa terkecuali. Pemerintah harus bergerak cepat mengambil kebijakan yang tepat sasaran, sementara masyarakat perlu mulai beradaptasi dan meningkatkan kesadaran akan risiko lingkungan.

 

“Di tengah dunia yang belum menentu ini, kemandirian di bidang pangan, energi, dan kesiapan menghadapi bencana adalah pondasi utama agar kita tetap bisa berdiri tegak dan selamat. Ancaman ini nyata, namun tujuan kami menyampaikannya bukan untuk menakuti, melainkan agar kita semua bersiap sebaik mungkin dan meminimalkan dampak buruk yang mungkin terjadi,” pungkasnya.

 

Diskusi lengkap mengenai fenomena alam, geopolitik, dan kesiapan menghadapi tantangan ini dapat disimak selengkapnya dalam kanal YouTube EdShareOn di tautan berikut: https://youtu.be/rhwPFUSD9xg atau kunjungi situs resmi https://edshareon.com/.

 

(Tim Redaksi)

Author

admin

Follow Me
Other Articles
Previous

Silaturahmi ke Makam Sang Wali: Menguak Hubungan Sejarah Kerajaan Sunda dan Dakwah Prabu K.H. Ki Boros Ngora

Next

Prabowo Batal Terbang ke Rusia, Presiden Pilih Fokus Selesaikan Urusan Dalam Negeri

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2026 — OkiNews. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme