SURABAYA, 16 OKTOBER 2026 – Di tengah kebutuhan untuk terus beradaptasi, jebakan terbesar yang kerap melemahkan organisasi adalah pola pikir yang hanya mementingkan keuntungan sesaat. Ketika keputusan diambil demi kenyamanan kelompok hari ini tanpa memikirkan dampaknya ke depan, masa depan organisasi sedang dipertaruhkan. Mengubah budaya yang mementingkan keuntungan sesaat menjadi budaya yang berpegang teguh pada nilai jangka panjang adalah kunci utama agar organisasi tetap berdiri kokoh dan bermanfaat secara berkelanjutan.
Pakar hukum dan mantan Ketua Komisi III DPR RI, Dr. Pieter C. Zulkifli, S.H., M.H., menegaskan bahwa bahaya paling serius bagi sebuah organisasi adalah hilangnya visi yang berlandaskan moralitas. Kepemimpinan yang lemah sering kali terjebak mengejar pencapaian yang tampak baik di permukaan, namun melupakan hal yang paling mendasar: membangun karakter dan integritas para anggotanya.
Keberhasilan organisasi tidak boleh diukur dari seberapa terpenuhi kepentingan kelompok yang berkuasa saat ini. Kekuatan sejati sebuah lembaga terletak pada konsistensinya menegakkan keadilan bagi semua pihak. Jika organisasi dijalankan hanya untuk menguntungkan segelintir orang, fondasinya akan rapuh dan mudah runtuh saat menghadapi tantangan besar di masa mendatang.
Anatomi Oportunisme dan Hilangnya Kader Berkualitas
Pola pikir yang hanya mementingkan keuntungan sesaat terlihat dari cara pemimpin menempatkan orang-orang di posisi penting. Jabatan bukan lagi diberikan kepada mereka yang mampu, berintegritas, dan memiliki visi ke depan, melainkan dijadikan hadiah bagi mereka yang patuh tanpa syarat kepada kelompok tertentu.
Dampaknya sangat merusak dalam jangka panjang. Kader-kader yang jujur, berkemampuan, dan memiliki semangat idealisme perlahan akan mundur atau tersisih. Akibatnya, organisasi kekurangan pemimpin yang berkualitas di masa depan, karena yang tersisa hanyalah mereka yang terbiasa mengikuti arus kepentingan sesaat tanpa peduli pada tujuan mulia organisasi itu sendiri.
Membangun Budaya Baru: Berani Memilih yang Benar, Bukan yang Instan
Untuk mengubah pola ini, Dr. Pieter mengajak kita membangun budaya baru di dalam organisasi. Keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari hasil kerjanya yang tampak hari ini, tetapi juga dari seberapa konsisten ia menjaga nilai-nilai etika dan keadilan bagi seluruh anggota.
Perubahan ini membutuhkan keberanian dari setiap pemimpin untuk menolak keuntungan instan yang sebenarnya merugikan di kemudian hari. Nilai-nilai seperti keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab harus menjadi pedoman hidup bersama, bukan sekadar tulisan di dokumen. Keberanian memilih jalan yang benar meskipun berat adalah tanda sejati dari seorang pemimpin yang berintegritas.
Sebagai penutup, Dr. Pieter Zulkifli mengingatkan: organisasi yang besar dan abadi tidak dibangun di atas kompromi kepentingan, melainkan di atas fondasi integritas yang kokoh. Dengan meninggalkan keuntungan sesaat dan kembali pada nilai-nilai luhur, organisasi akan tetap relevan, kuat, dan terus memberi manfaat nyata bagi masyarakat dari generasi ke generasi.(red)
