Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
OkiNews OkiNews OkiNews
OkiNews OkiNews OkiNews
  • Breaking News
  • Hukum
  • Militer
  • Nasional
  • Opini
  • Polri
  • Sosial
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Breaking News
  • Hukum
  • Militer
  • Nasional
  • Opini
  • Polri
  • Sosial
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
OkiNews OkiNews OkiNews
OkiNews OkiNews OkiNews
  • Breaking News
  • Hukum
  • Militer
  • Nasional
  • Opini
  • Polri
  • Sosial
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Breaking News
  • Hukum
  • Militer
  • Nasional
  • Opini
  • Polri
  • Sosial
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Home/Breaking News/Silaturahmi ke Makam Sang Wali: Menguak Hubungan Sejarah Kerajaan Sunda dan Dakwah Prabu K.H. Ki Boros Ngora
Breaking News

Silaturahmi ke Makam Sang Wali: Menguak Hubungan Sejarah Kerajaan Sunda dan Dakwah Prabu K.H. Ki Boros Ngora

By admin
Juni 17, 2026 4 Min Read
0

SUKABUMI, 17 Juni 2026 – Suasana khidmat menyelimuti Kompleks Makam Waliyullah Prabu K.H. Ki Boros Ngora di Ciambar. Di tempat yang sarat nilai sejarah ini, Oki Prasetiawan, S.M.,S.H.,M.H.,CLMA.,CLA., pengkaji sejarah dan hukum budaya Nusantara, melakukan kunjungan silaturahmi khusus. Ia diterima langsung oleh penjaga warisan leluhur sekaligus ulama besar, Abuya K.H. Aang Jejen Zaenudin. Turut mendampingi dalam pertemuan istimewa tersebut adalah Advokat Ilham Nurachmad, S.H.

Pertemuan ini menjadi momen penting untuk menyingkap kembali benang merah antara kejayaan Kerajaan Sunda dengan kiprah besar Prabu K.H. Ki Boros Ngora dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Pasundan, serta mengurai bagaimana nilai‑nilai kerajaan bersatu harmonis dengan syariat agama.

“Kami hadir ke sini bukan sekadar berziarah, melainkan ingin mendapatkan penjelasan otentik langsung dari Abuya selaku pemegang amanah sejarah ini. Kami ingin memahami bagaimana peran strategis Prabu K.H. Ki Boros Ngora, yang merupakan bagian dari keluarga besar Kerajaan Sunda, mampu menjadi jembatan peradaban yang menyatukan budaya dan agama,” ungkap Oki Prasetiawan.

Sementara itu, Advokat Ilham Nurachmad, S.H. menambahkan sisi penting dari kunjungan ini. “Sebagai praktisi hukum, saya melihat bahwa keberadaan situs ini dan sejarah di baliknya memiliki nilai kewarisan dan hukum adat yang sangat kuat. Pengelolaan yang dijaga ketat oleh Abuya menjadi bukti nyata bagaimana aturan tradisi dan hukum hidup berdampingan demi melestarikan identitas bangsa,” ujar Ilham.

Jejak Kehidupan dan Peran Prabu Boros Ngora

Dalam penjelasannya yang mendalam, Abuya Aang Jejen menuturkan bahwa Prabu K.H. Ki Boros Ngora—yang juga dikenal dengan gelar Prabu Sanghyang Boros Ngora atau Prabu Jampang Manggung—adalah putra kedua dari Prabu Cakradewa, Raja Kerajaan Panjalu, salah satu wilayah kedaerahan di bawah naungan Kerajaan Sunda yang besar.

“Beliau lahir dan dibesarkan dalam kemewahan istana dengan segala kewibawaan kerajaan. Namun, jiwa pencari kebenaran membuat beliau meninggalkan semua itu untuk berkelana jauh hingga ke Tanah Suci Mekkah. Di sana, beliau menimba ilmu agama secara mendalam, hingga pulang kembali ke tanah kelahiran membawa bekal ilmu dan misi suci,” cerita Abuya Aang Jejen dengan nada penuh kekaguman.

Kepulangannya bukan untuk mengubah tatanan yang ada, melainkan menyempurnakannya. Prabu Boros Ngora mengajarkan bahwa menjadi orang Sunda yang sejati adalah sejalan dengan menjadi Muslim yang taat. Pendekatan dakwahnya yang lembut namun berwibawa, berkat statusnya sebagai prabu dan ulama, membuat ajaran Islam diterima luas oleh masyarakat tanpa perlawanan.

“Di sinilah letak kehebatan beliau. Beliau membawa Islam tidak sebagai sesuatu yang asing, tetapi sebagai pelengkap budaya luhur leluhur. Karena itu, dakwah beliau bisa merasuk hingga ke seluruh lapisan masyarakat, dari bangsawan hingga rakyat biasa,” tambah Abuya.

Oki Prasetiawan menilai hal ini sebagai strategi peradaban yang brilian. “Posisi beliau sebagai anggota kerajaan memberikan landasan sah secara sosial dan hukum. Ketika beliau mengajarkan agama, masyarakat melihatnya sebagai perintah pemimpin yang bijaksana, bukan paksaan. Inilah sebabnya jejak sejarah ini begitu kuat melekat di hati masyarakat Sunda hingga kini,” papar Oki.

Ilham Nurachmad juga menyoroti hal serupa dari kacamata hukum sosial. “Penyatuan dua nilai besar ini membentuk sistem norma yang kokoh. Nilai adat tidak hilang, justru diperkuat oleh nilai agama. Inilah pondasi harmoni yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa Barat hingga masa kini,” jelas Ilham.

Warisan Agung dan Karomah Sang Prabu Waliyullah

Pesan Luhur dan Keagungan Makam yang Terawat

Berjalan mengelilingi kompleks makam yang megah, bersih, dan dihiasi ornamen bernilai seni tinggi, Oki dan Ilham tampak terkesan. Di bawah bimbingan Abuya Aang Jejen, mereka mendengar kisah‑kisah karomah yang melekat pada sosok Prabu K.H. Ki Boros Ngora. Mulai dari percikan air Zamzam yang menjadi mata air tak pernah kering, hingga fakta bahwa makam ini tak pernah tersentuh banjir meski berada di pinggir Sungai Cileuleuy.

Namun bagi Abuya, karomah terbesar bukanlah hal gaib, melainkan warisan ajaran yang ditinggalkan. “Beliau mengajarkan kita untuk menghormati leluhur, mencintai budaya sendiri, namun tetap berpegang teguh pada syariat Allah. Itulah pesan utama yang terus kami rawat dan kami sampaikan kepada setiap peziarah yang datang ke sini,” tegas Abuya.

Kondisi makam yang terawat sempurna seperti sekarang ini, diakui Abuya, adalah hasil kerja kerasnya sendiri dan dukungan masyarakat, sebagai bentuk bakti agar sejarah ini tidak hilang.

Oki Prasetiawan mengapresiasi usaha pelestarian tersebut. “Banyak sejarah yang tertulis terpotong atau kurang lengkap, namun di sini, Abuya menjaga keutuhan ceritanya. Kami jadi paham betul bahwa Prabu K.H. Ki Boros Ngora adalah tokoh sentral yang merekatkan sejarah Kerajaan Sunda dengan sejarah Islam. Tanpa sosok beliau, mungkin wajah budaya Sunda hari ini akan berbeda,” ujar Oki.

“Pengelolaan ini juga menjadi contoh bagaimana sebuah warisan harus dijaga: teratur, terhormat, dan jelas keabsahannya secara adat maupun hukum,” sahut Ilham.

Mengukuhkan Amanah Menjaga Sejarah Bangsa

Komitmen Melestarikan Jejak Sang Leluhur

Di akhir pertemuan yang penuh makna itu, Oki dan Ilham menyampaikan penghargaan setinggi‑tingginya kepada Abuya Aang Jejen. Mereka menegaskan bahwa peran Abuya sangat vital sebagai penjaga gerbang sejarah yang menjaga identitas bangsa tetap utuh.

“Silaturahmi ini sangat berharga. Kami kini semakin yakin bahwa sejarah

Author

admin

Follow Me
Other Articles
Previous

Libur Sekolah Dimanfaatkan Audit, BGN Hentikan Sementara Penyaluran MBG

Next

EdShareOn: Eddy Wijaya & Prof. Dwikorita Karnawati – El Nino Godzilla dan Ancaman Aktifnya Sesar Palu‑Koro

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2026 — OkiNews. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme