Bahas Ancaman Megathrust di Podcast EdShareOn, Mbah Rono: Kunci Mitigasi Ada pada Penataan Ruang, Bukan Struktur Birokrasi
JAKARTA, 23 SEPTEMBER 2026 — Isu potensi gempa raksasa megathrust yang membayangi wilayah pesisir Indonesia kembali menjadi sorotan publik. Menanggapi hal tersebut, Pemerhati Mitigasi Bencana Geologi, Dr. Ir. Surono, DEA., IPU. atau yang akrab disapa Mbah Rono, menegaskan bahwa mitigasi terbaik bukanlah kepanikan massal atau perombakan struktur birokrasi, melainkan ketegasan dalam penataan ruang wilayah.
Berbicara dalam Podcast EdShareOn yang dipandu Eddy Wijaya, Mbah Rono meluruskan bahwa 13 titik zona megathrust di Indonesia sudah eksis jauh sebelum peradaban modern berdiri. Di balik ancaman gempa, aktivitas tektonik ini justru menjadi berkah yang melahirkan cadangan minyak, gas bumi, serta kekayaan mineral di tanah air.
“Megathrust itu keniscayaan. Sekarang tinggal bagaimana pemerintah daerah menggunakan peta rawan bencana gempa bumi dan tsunami yang sudah dibuat para ahli sebagai landasan utama penataan ruang wilayah,” ujar Mbah Rono.
Pembangunan di Zona Rawan Masih Diabaikan
Mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi ini menyoroti kecenderungan pembangunan infrastruktur dan pemukiman yang kerap mengabaikan zonasi bahaya. Ia mengingatkan, jika tsunami menerjang pada malam hari, waktu evakuasi masyarakat pesisir hanya berkisar 15 hingga 20 menit setelah gempa terjadi.
“Sehebat apa pun infrastruktur jalan tol atau jalur evakuasi yang dibangun, tidak akan efektif jika pemukiman tetap dibiarkan tumbuh subur di kawasan rawan bencana. Kunci utamanya adalah pengendalian tata ruang,” tegas Anggota Dewan Energi Nasional tersebut.
Wacana Penggabungan Lembaga Dinilai Tidak Tepat
Terkait usulan penggabungan BMKG, PVMBG, dan BNPB menjadi satu kementerian, Mbah Rono menegaskan perdebatan struktur birokrasi tidak akan menyelesaikan akar masalah kebencanaan jika tidak menyentuh substansi keahlian. Ia menyarankan pemerintah lebih memfokuskan upaya pada tiga hal utama:
– Mencetak Ahli Kebumian — Memperbanyak tenaga ahli vulkanologi dan geologi yang memahami karakter spesifik wilayah Indonesia.
– Penguatan Pemantauan — Mengembangkan dan memperbanyak peralatan canggih buatan dalam negeri.
– Edukasi Pemerintah Daerah — Memastikan para pemimpin daerah memahami prosedur tetap kebencanaan agar dapat mengambil keputusan evakuasi tepat waktu.
Bencana Kerap Berakar dari Kelalaian Manusia
Mbah Rono mengingatkan bahwa kerugian akibat bencana sering kali muncul akibat kelalaian manusia. Tugas pemerintah daerah bukan sekadar bersikap reaktif saat peristiwa terjadi, melainkan memanfaatkan data geologi untuk melindungi keselamatan masyarakat dalam jangka panjang.
“Bencana itu sering kali dikaitkan dengan dampak kerugian ekonomi dan korban jiwa yang timbul akibat ulah manusia yang abai. Tugas pemerintah daerah bukan bersikap reaktif saat kejadian, melainkan menggunakan data geologi untuk melindungi keselamatan masyarakat dalam jangka panjang,” pungkasnya.
(EdShareOn/Admin)